Kondisi Tanaman Apel di Kota Wisata Batu





Wilayah Kota Batu memiliki luas lahan sekitar 19.908,7 hektar, dan 30% dari luasan tersebut adalah tegalan dan kebun yang merupakan tempat utama untuk usahatani apel. Luasan tersebut hampir mendekati luas lahan untuk hutan dan penggunaan lain (35%), sedangkan sisanya adalah untuk sawah (5%) dan pemukiman (8%).  Meskipun tanaman apel juga ditanam di lahan sawah, kondisinya kurang optimal dibandingkan dengan apel di tegalan karena pada tanah sawah umumnya terdapat lapisan tapal bajak yang sulit ditembus akar dan drainasinya maupun aerasinya kurang baik untuk pertumbuhan tanaman apel.  Tanaman apel dijumpai paling banyak pada ketinggian dibawah 1.400 m dpl, sedangkan diatasnya didominasi oleh tanaman sayuran terutama kentang. 


Jenis Tanah Sentra Produksi Apel
Berdasarkan Peta Penyebaran Jenis Tanah, daerah sentra produksi apel di Kecamatan Bumiaji memiliki janis tanah yang beragam. Andosol coklat kekuningan dan litosol (warna ungu) meliputi daerah sebagian desa Tulungrejo dan Giripurno, serta sebagian besar Desa Sumbergondo yang banyak diusahakan tanaman apel varietas Manalagi dan Rome Beuty. Jenis tanah asosiasi andosol coklat dan glei humus (warna hijau terang) terdapat di daerah sebagian Desa Tulungrejo, Punten, Gunungsari, Bulukerto, Bumiaji, Pandanrejo, Sumbergondo dan Giripurno. Jenis tanah asosiasi andosol kelabu dan regosol kelabu (warna coklat muda) terdapat di daerah sebagian Desa Tulungrejo dan Punten dengan apel varietas Manalagi dan Anna. Jenis tanah asosiasi latosol coklat dan regosol kelabu (warna hijau muda) terdapat di daerah sebagian Desa Bumiaji, Bulukerto, Pandanrejo dan Giripurno yang banyak diusahakan tanaman apel varietas Rome Beuty dan Manalagi. Jenis tanah regosol coklat (warna biru) terdapat di daerah sebagian Desa Gunungsari, Pandanrejo dan Giripurno. Sedangkan jenis tanah regosol kelabu (warna merah) terdapat di daerah sebagian Desa Tulungrejo dan Desa Sumbergondo.  

Penerapan Agroteknologi
Secara umum, kondisi tanaman apel di kebun petani relatif baik pada saat dilakukan survei lapangan yang dilaksanakan pada musim kemarau. Namun demikian, keragaan tanaman yang dimiliki oleh petani besar (mengelola minimal 1 ha kebun apel) lebih baik dibandingkan dengan tanaman petani yang mengelola kebun lebih sempit.  Hal ini disebabkan petani besar umumnya memberikan masukan teknologi (agro input) lebih baik dibandingkan dengan petani kecil. Berdasarkan wawancara, diskusi dan pengamatan lapangan, beberapa masalah yang dihadapi dalam budidaya apel meliputi penurunan mutu lahan apel, meliputi harga pestisida semakin mahal dan mutunya cenderung menurun,  pupuk kimia pada saat tertentu sulit didapatkan, dan ketersediaan pupuk kandang untuk memperbaiki kesuburan tanah semakin langka karena umumnya petani apel tidak memelihara ternak sapi. 

Penurunan mutu lahan tidak hanya terjadi di kebun-kebun apel tetapi juga terjadi pada lahan pertanian disekitarnya. Hal ini disebabkan lahan tersebut telah digunakan secara intensif dalam waktu yang lama tanpa memberikan masukan bahan kimia dan organik yang berimbang sehingga tanah mengalami pengurasan unsur hara atau mengalami kelelahan. Sebagai indikasinya yaitu banyaknya kegagalan usaha meremajakan tanaman apel di lokasi yang pernah ditanami sebelumnya karena tanah tidak mampu lagi mendukung pertumbuhan tanaman seperti tanaman sebelumnya.

Nasib tanaman apel dimasa mendatang akan banyak dipengaruhi oleh perkembangan mutu lahan. Walaupun memiliki karakteristik yang sangat mendukung tanaman apel, tanah andisol tempat usahatani apel terletak pada daerah yang lerengnya curam sampai sangat curam, strukturnya remah dan konsistensinya gembur sehingga sangat peka terhadap erosi.  Kondisi tersebut diperburuk oleh kegiatan pengolahan lahan yang dilakukan  sebagian besar petani yang kurang memperhatikan kaidah-kaidah konservasi lahan, seperti membuat bedengan searah dengan kemiringan lahan, tidak ada teras lahan, dan membiarkan teras terbuka tanpa tanaman penguat. 

Proses erosi tanah  yang dominan terjadi di kebun apel adalah erosi tanah oleh air
hujan (Suhariyono at all, 2009).  Erosi tanah oleh air merupakan suatu proses yang terdiri atas 3 tahapan, yaitu penghancuran permukaan tanah oleh butir-butir hujan, yang sekaligus terjadi erosi percik atau “splash erotion”, kemudian terjadi pengangkutan partikel-partikel tanah oleh aliran permukaan dan akhirnya terjadi pengendapan sedimen di daerah cekungan atau terbawa ke laut lepas. Proses tersebut dapat berlangsung terus menerus selama musim hujan dan berkurang pada saat kemarau sehingga dalam jangka panjang menimbulkan dampak solum tanah makin tipis, produktivitas tanah menurun yang akhirnya lahan menjadi tidak layak untuk usahatani apel.

Dalam mensikapi kenaikan harga pestisida dan pupuk kimia, petani kecil lebih sering mengeluh karena modal usahanya lebih rendah serta akses permodalannya lebih sempit dibandingkan dengan petani kelas menegah dan besar.  Keinginan menurunkan (subsidi) harga pestisida sulit dilaksanakan karena sebagian besar bahan aktif pestisida merupakan bahan impor yang pergerakannya bergantung pada nilai tukar rupiah, dan harga penjualannya ditentukan oleh importir yang umumnya adalah swasta. Sedangkan untuk pupuk kimia selain bahan bakunya masih diimpor, pemerintah tidak memberikan subsidi untuk pertanian hortikultura yang dianggap petaninya lebih sejahtera dibandingkan petani tanaman pangan, bahkan kemungkinannya subsidi pupuk untuk pertanian tanaman pangan juga akan dihilangkan secara bertahap.
Dikutip dari http://balitjestro.litbang.deptan.go.id/

Balai Penelitian Jeruk dan Buah Subtropika




Tidak ada komentar:

Posting Komentar