Selasa, 25 Oktober 2016

Tulungrejo Lolos Semifinal

BATU - Tim Tulungrejo maju ke semifinal kompetisi sepak bola kelompok umur KU16 setelah menggasak Sumberejo dengan skor 3-0, di Stadion Brantas Batu, Selasa (25/10) kemarin. Kemenangkan tersebut menjadikan Tulungrejo mengoleksi poin enam karena sebelumnya mengalahkan Bulukerto.
Dalam pertandingan kemarin, permain Tulungrejo dan Sumberejo berlangsung imbang hingga menit 22. Begitu memasuki menit ke-23, Sumberejo kebobolan oleh gol Nofal. Penjaga gawang Sumberejo, M tidak mampu menjangkau bola tendangan Nafol sehingga bola langsung meluncur ke dalam gawangnya. Gol tersebut menjadi satu-satunya yang tercipta pada babak pertama.
Memasuki babak kedua, Sumberejo berusaha keras membalas ketertinggalan. Namun Tulungrejo tidak mampu menciptakan gold an malah kebobolan pada menit ke-55 oleh Sidan. Papan skor kembali berubah 2-0 untuk Tulungrejo.
Tak lama kemudian, Sidan mampu melewati beberapa pemain Sumberejo. Dia lolos hingga kotak pinalti dan kembali menciptakan gol pada menit ke-61. Gol kedua Sidan ini menjadikan tim Tulungrejo mengubah papan skor menjadi 3-0.
Dalam pertandingan tersebut, tak banyak pelanggaran. Hanya Mario dari Sumberejo mendapat kartu kuning dimenit 60. Pertandingan juga berlangsung seru. Sorakan penontan dari tribun menambah semangat kedua tim untuk bertanding. Lebih-lebih dalam pertandingan tersebut dihadiri Ketua KONI Batu, Zainul Arifin.
Pergantian pemain dilakukan oleh kedua tim. Tim Desa Sumberejo mengganti penjaga gawang M Bagus, Wahyu S, Nurohmad, Krisna Ordiansyah dengan Rizky, Wahyu, William, dan Fachruddin. Sementara Tulungrejo mengganti Candra, Rovino, Anang, Nofal dan Hilmi dengan Royan, Febry, Fian, Abang, dan Akbar.
Muhammad Rofiq, pelatih Sumberejo tetap mengapresiasi pemainnya meskipun kalah dalam pertandingan PORKOT ke-5 Kota Batu itu. Dia menganggap, tim asuhanya sudah bermain maksimal.
"Mental pemain langsung drop setelah gol pertama," kata Rofiq
Menurutnya, hal tersebut terjadi karena gelandang Vega terkena kartu merah saat melawan Bulukerto. Dengan begitu, timnya tidak bisa menjaga keseimbangan permainan lini tengah.
"Tak ada kendali permainan di lini tengah karena gelandang kami terkena kartu merah. Kami harus gugur dan tak mampu lolos semifinal tahun ini," ujarnya.
Rofiq berharap, tahun depan bisa memenangi pertandingan yang diadakan Pemkot maupun instansi lain. Dia akan mencari bibit pemain baru karena pemain sekarang sudah tak bisa diiikutsertakan karena umur sudah 17 tahun.
Semantara kapten tim Tulungrejo, Diaz Erlangga optimis bisa memenangi pertandingan PORKOT 2016 tersebut. "Harus menang sebanyak mungkin, minimal 3-0 dalam pertandingan selanjutnya," katanya
Pelatih Tulungrejo, Wijil Basuki menjelaskan, dia tak mau banyak komentar menanggapi kemenangan hingga membuat timnya lolos semifinal. "Semua tim lolos semifinal diharapkan bisa mendapat tolenasi beristirahat sehari," ujarnya.
Sumber :http://www.malang-post.com

Jumat, 23 September 2016

Fery Dwi Cahyono, Petani Apel Sekaligus Pembalap Grasstrack Sarat Prestasi

Usai menyantap menu sarapannya, Fery Dwi Cahyono langsung menjajal motor trail kesayangannya. Mengenakan kostum yang biasa dipakainya saat balapan, Fery bersemangat menggeber kendaraannya.a
Keseharian pria berusia 25 tahun itu bertani apel. Tapi Fery juga jago balapan. Bahkan, sudah puluhan kali merajai sirkuit. Di ajang balap IRCtire Powertrack Indonesia Dirt Bike Campionship 2016, di Sikuit Powetrack, Jalan Sultan Agung, 6-7 Agustus lalu, dia menduduki peringkat empat besar.
Total ada 20 pembalap yang bertanding. Mereka berasal dari berbagai daerah di Jatim. Fery satu-satunya pembalap yang mewakili kota wisata ini. ”Juara-juaranya ada pembalap asal Pasuruan dan Blitar,” kata Fery saat ditemui di rumahnya, Jalan Raya Arjuna, Gang XVI, Desa Tulungrejo, Bumiaji, kemarin (26/8).
Kompetisi berskala Jatim itu bukan pertama kali yang dilakoninya. Pemuda kelahiran Batu, 4 Mei 1991 tersebut sudah bergelut di dunia balap sejak tahun 2012 silam. Mulai balapan skala kecamatan hingga tingkat Jatim, semua sudah dijajalnya.
”Awal mulai ya tingkat desa/kecamatan. Tapi saat ini mencapai kelas standar pemula di tingkat Jatim,” kata dia.(dan)
Sumber : radar malang.co.id

Joni Rahmat, Jatuh Bangun Menggeluti Bisnis Olahan Pangan Jamur Tiram

Hampir semua petani jamur di Dusun Wonorejo Desa Tulungrejo Kecamatan Bumiaji mengetahui sosok Joni Rahmat.  Pria yang akrab disapa Joni ini dikenal masyarakat sekitarnya sebagai petani sekaligus pengolah produk jamur. Dia sudah menekuni dunia jamur, khususnya jamur tiram, sejak 2000 lalu.
Bapak 40 tahun ini mencoba mendiversifikasi jamur menjadi berbagai produk olahan. Misalnya keripik, nugget, bakso, siomay, lumpia, martabak, steak, sate hingga jamur krispi. Dan hasil olahannya kini banyak dikonsumsi masyarakat sekitar maupun Kota Batu.
Awalnya bapak dua anak ini menggeluti dunia jamur hanya sambilan. Pada tahun 2000 itu, Joni adalah kontraktor bangunan. Saat bermukim di Perumahan Sawojajar Kota Malang sebelum 2007, Joni  sudah membudidayakan jamur.
Niatnya nyambi budidaya jamur itu karena Joni menyukai jamur. Menurutnya, jamur adalah tanaman organik yang mengandung gizi tinggi. Joni menyukai jamur sejak anak-anak. Kesukaannya bertambah ketika pada tahun 2000, ada pelatihan budidaya jamur tiram. Saat itu dia masih mahasiswa di Universitas Brawijaya (UB).

”Awalnya hanya suka biasa. Tapi setelah tahu cara budidayanya, semakin tertantang untuk menekuni,” kata Joni.
Joni lalu pindah ke Sidomulyo Kota Batu untuk mendirikan rumah jamur dengan kapasitas 10 ribu baglog. Dengan modal Rp 22 juta, Joni mendirikan rumah jamur kuping.
Dia saat itu juga membuat baglog secara mandiri. Baglog terbuat dari serbuk kayu, bekatul, tepung jagung, kapur dan air. Dari 30 petani jamur di Desa Tulungrejo kala itu, sekitar 70 persen baglognya dipasok oleh Joni.
Pekerjaan di dunia kontraktor hanya berumur dua tahun. Joni memilih menekuni jamur. Dia pun mengirim hasil panen jamur tiram ke berbagai hotel dan restoran di Kota Malang, Surabaya, Bali hingga Lombok.
Waktu itu,  kirimannya ke konsumen dalam skala kecil. Total pengiriman dalam sehari hanya 30 kilogram.
Meski hanya sedikit, ketika pasar sedang sepi, banyak jamur yang terbuang sia-sia. Bahkan suatu ketika dia memiliki terlalu banyak stok, sekitar 100 kilogram. ”Barang saya saat itu kelebihan. Saya bagikan ke tetangga-tetangga sudah bosan mereka. Terpaksa sisanya kita buang ketika sudah busuk,” kata suami dari Inayatul Hikmah ini.
Kemudian, Joni berpikir harus ada solusi produk agar jamurnya tak sia-sia. Dia pun belajar sendiri mengolah jamur menjadi keripik. Ide itu dia dapatkan dari Jogjakarta. Di sana ada olahan jamur menjadi keripik. Joni pun akhirnya belajar otodidak mengolah jamur segar menjadi keripik jamur.
Upayanya itu tidak langsung berhasil. Joni harus jatuh bangun untuk menemukan rasa keripik jamur yang pas. Joni membutuhkan waktu enam bulan untuk menciptakan rasa keripik jamur yang gurih.  ”Mulanya rasanya kacau. Ada yang terlalu asin hingga manis,” kata lulusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Brawijaya tahun 2000 ini.
Proses pembuatan keripik yang dilakukan Joni pun sederhana. Bahan-bahan yang dibutuhkan adalah jamur tiram, tepung, bumbu khususnya dan minyak goreng kualitas tinggi. Alat yang digunakan hanya sederhana. Mulai penggorengan hingga spin untuk mengeringkan keripik dari minyak.
Harga jual keripiknya terjangkau. Tetapi bisa naik turun karena disesuaikan dengan harga bahan baku dan ongkos produksi. Pada 2007 lalu, satu kilogram keripik jamur dijual dengan harga Rp 60 ribu. Untuk saat ini harganya Rp 80 ribu per kilo.
Sedangkan makanan olahannya juga terus berkembang. Pada 2009, dia mulai membuat nugget dan aneka olahan lainnya. Rasa nugget buatannya langsung enak dan gurih. Tidak seperti saat membuat keripik yang membutuhkan waktu 6 bulan untuk menemukan rasa yang pas.
Untuk pemasaran produk olahan jamur itu ia tidak merasa kesulitan. Berkat jaringan teman dan koleganya. ”Lumpia jamur dan aneka lainnya, dipesan secara regular oleh anggota dewan dan koperasi di Pujon,” ungkap lulusan SMAN 2 Genteng Banyuwangi ini.
Joni mengatakan, rasa dari makanan olahan jamur mirip seperti daging. Sudah banyak yang mengatakan itu. Wali Kota Batu Eddy Rumpoko ketika makan martabak jamur di Junggo sempat mengira martabak itu dari daging. Padahal aslinya terbuat dari jamur.
”Bahan makanan dari daging bisa digantikan dengan jamur tiram. Khusus untuk bakso jamur, tetap memakai campuran daging tetapi cita rasa jamur lebih kuat,” katanya.
Dalam sehari, Joni saat ini membutuhkan 50 kilogram hingga 70 kilogram jamur tiram segar. Itu untuk membuat makan olahan. Sebanyak enam pekerjanya membantu membuat berbagai olahan jamur itu.
Joni beserta makan olahan jamur sudha dikenal oleh berbagai instansi Pemkot Batu. Mulai dari Dinas Kesehatan hingga Kantor Ketahanan Pangan. Dia pun sering diajak pameran di luar kota. Bahkan produknya seringkali laris saat pameran karena produknya berbeda dengan yang lain.
”Pameran di beberapa tempat Malang Raya. Yang terdekat ini, mau pameran di acara Pameran Pangan Nasional 24 April hingga 27 April di Semarang, Mei nanti di Ambon. Ini salah satu peran kantor ketahanan pangan,” kata Joni.
Bapak berambut lurus ini menginginkan jamur bisa menjadi salah satu produk unggulan Kota Batu selain apel dan sayur organik. Sebab potensi pasar jamur sangat besar. Terutama di sektor jamur olahan. 
Sumber : radar malang.co.id

Rabu, 21 September 2016

Pengembangan Coban Talun, Butuh Rp 30 M

Langkah pemkot (pemerintah kota) Batu untuk mempercantik kompleks wisata Coban Talun Batu tampaknya akan mengalami kendala. Karena hingga kemarin masih ada satu investor yang tertarik.
Padahal sesuai dengan master plan yang sudah dirancang, pembangunan ini membutuhkan dana Rp 30 M. Sedang pembangunan ini direncanakan pada tahun depan. “Sampai saat ini masih satu investor (yang punya niat untuk inves, red). Idealnya lebih dari satu,” kata Kabid Kehutanan Dinas Pertanian dan Kehutanan Kota Batu, Heru Waskito kemarin.
Menurutnya, investor yang berminat ini juga berasal dari Kota Batu. Hanya saja, sang investor masih belum menyebutkan berapa jumlah dana yang akan diinvestasikan untuk pembangunan tersebut. “Sampai saat ini masih proses nego,” ucap pria asal Batu ini.
Sumber : Radar Malang.co.id

Awas, Coban Talun Banjir

Wisatawan yang menikmati indahnya alam Coban Talun sebaiknya waspada. Sebab, guyuran hujan terus-menerus belakangan ini, menambah debit air di dam yang berada di Dusun Wonorejo, Desa Tulungrejo, Bumiaji tersebut. Jika hujan terus mengguyur dan dam tidak mampu menampung luapan air, bisa mengakibatkan banjir.
Kepala Resort Pemangku Hutan (KRPH) Punten Bambang Sutrisno mengatakan, debit air di sabo dam Coban Talun terus bertambah. Tapi hingga kini masih aman. ”Karena airnya semakin deras, wisatawan yang berfoto di sabo dam harus hati-hati,” kata Bambang, kemarin.
Jika beberapa hari ke depan Kota Batu terus diguyur hujan, dia memastikan debit air akan terus meningkat. Demi keselamatan wisatawan, dia terus memantau kondisi wisata. Saat hujan, Bambang melarang wisatawan di titik air terjun. Sebab, dikhawatirkan tiba-tiba terjadi banjir dan menimpa wisatawan.
Di lokasi coban telah dipasang banner bertuliskan peringatan. Misalnya, hati-hati saat berfoto atau selfie. Pemasangan banner itu diharapkan bisa membuat pengunjung waspada. ”Tapi di lokasi sabo dam belum kami beri tulisan peringatan. Wisatawan tetap harus berhati-hati,” katanya.
Di sisi lain, bertambahnya debit air di sabo dam Coban Talun bisa dimanfaatkan untuk irigasi lahan pertanian. Selama ini, lahan pertanian di kawasan Bumiaji mengandalkan air dari Coban Talun, sehingga musim kemarau pun tidak kekurangan air.
”Kalau musim kemarau tahun lalu, kami kekurangan air. Tahun 2016 ini sepertinya air melimpah,” kata dia.
Sumber : Radar Malang.co.id