Kamis, 19 Oktober 2017

Karnaval Selamatan Desa Tulungrejo 2017


 Karnaval dalam rangka Selamatan Desa Tulungrejo yang diadakan setiap 2 tahun sekali, telah menghadirkan peserta kurang lebih 5.000 orang peserta. Hal ini dalam rangka mensyukuri nikmat kepada sang Maha Pencipta atas anugerahnya pada masyarakat Desa Tulungrejo. Antusiasme peserta karnaval yang diikuti oleh Kepala Desa beserta Perangkat Desa, Kepala Dusun, ada BPD, LPMD, Ketua RW, Ketua RT  dan semua warga disetiap RT dan RW semuanya keluar sebagai peserta Karnaval.  Peserta dari Dusun Gondang, disusul Dusun Gerdu, Dusun Kekep, Dusun Wonorejo dan terakhir Dusun Junggo. Start dimulai dari lapangan Translok Dusun Wonorejo berangkat jam 09.00, sayangnya jam 10.00 di garis start sudah turun hujan gerimis, sehingga banyak peserta yang tiba di garis Finish di depan Hotel Selekta banyak yang agak terlambat. Dipanggung Kehormatan telah ada Ibu Wibi Punjul Santoso istri Plt. Walikota Batu yang menyambut kedatangan para peserta karnaval. Hampir jam 18.00 peserta baru tiba digaris finish dan membubarkan diri kembali kerumah masing-masing.










Rabu, 18 Oktober 2017

Tumpeng Buah Dusun Gerdu jadi Rebutan


 Begitu tumpeng buah di atas sebuah pikap warna putih dijapani (dibacakan doa), ratusan penonton sontak langsung merangsek mendekati kendaraan. Mereka berebut buah-buahan segar, seperti durian, jeruk, nanas, dan apel.  
"Alhamdulillah dapat buah-buahan, bisa dimakan ramai-ramai dengan keluarga di rumah," ujar Suyanto, salah satu penonton dengan suka cita. 
Tumpeng buah-buahan ini merupakan persembahan warga Dusun Gerdu, Desa Tulungrejo untuk warga Desa Tulungrejo. Di garis finish atau depan panggung kehormatan, warga menyerbu pikap pengangkut tumpeng buah ini hingga ludes.Berbagai kreatifitas ditunjukkan warga Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji dalam karnaval bersih Desa Tulungrejo ini. Tidak hanya menampilkan berbagai tarian dan kesenian tradisional, hingga fashion on the street, warga juga mencoba mengangkat kearifan lokal. Pasar rakyat tempo doeloe menjadi salah satunya. 
Karang Taruna Dusun Gondang membawa gambaran pasar rakyat tempo doeloe dalam karnaval ini. Ada sepeda kuno, dulu digunakan pangkas rambut keliling, ada anak-anak SD mengerubungi orang jual jajanan, hingga penjual sayuran dan buah-buahan.
Sementara dibidang kesenian, warga juga menyajikan seni budaya sangat menarik.  Dusun Gondang mendampilkan tujuh Dadak Merak (Reog) lengkap dengan penari jathilan.
Suliono, Kepala Desa Tulungrejo mengatakan, karnaval diselenggarakan dalam rangkaian bersih desa ini diikuti lima dusun. Sama seperti rangkaian kegiatan lain, aktivitas itu bertujuan untuk merekatkan hubungan silaturahmi antar masyarakat dan perangkat desa. 
"Tidak hanya kita bisa melihat keguyupan warga, tapi juga kreatifitas warga dalam karnaval," ujar Suliono. 
Bersih desa diselenggarakan setiap Suro, Pasaran Kliwon. Kegiatan ini diselenggarakan sebagai bentuk syukur kepada Tuhan.  Ke depan, warga berharap diberikan rezeki dan keselamatan serta berkah untuk desa mereka. (dan/feb)



Rabu, 11 Oktober 2017

Tradisi Budaya Njenang Bareng Diadakan Kembali, Warga Tulungrejo Batu Pesta Sehari Penuh

Lima wajan atau penggorengan tertata dan tersebar di rumah Kepala Desa Tulungrejo, Rabu (11/10/2017) pagi.
Wajan berukuran besar itu merupakan sarana utama untuk mengaduk jenang kemoleh yang diadakan untuk peringatan Selametan Desa Tulungrejo.
Siapa sangka tradisi njenang bareng (membuat jenang secara bersma-sama) ini sudah lama tidak dilakukan oleh warga, hampir 40 tahun lalu. Oleh karena itu, tradisi ini kembali dihidupkan untuk menyatukan warga Desa Tulungrejo.Lima wajan ini untuk masing-masing dusun yang mengaduk jenang. Bahan-bahan yang digunakan untuk adonan jenang yakni gula merah, wajik, beras ketan, santan kelapa.
Setiap bahan rata-rata butuh sekitar 50 kilogram lebih. Dibutuhkan juga 500 buah kelapa. Untuk satu wajan berisi adonan jenang bisa dikerumuni puluhan waga yang bergantian mengaduknya.
Raut wajah warga Tulungrejo yang mengikuti kegiatan Njenang Bareng terlihat sangat bersemangat, tak jarang mereka menyemangati dirinya sendiri dengan berteriak.
Padahal mereka diselimuti oleh asap yang berasal dari tungku. Mereka mengaduk jenang secara bergantian. Mereka yang mengaduk jenang ini tak pandang usia. Mulai dari anak muda, remaja, hingga kakek berusia lanjut.
Walaupun mata mereka pedas karena paparan asap, mereka tetap bersemangat mengaduk jenang hingga matang menggunakan alat pengaduk besar yang terbuat dari kayu. Tradisi ini ternyata mampu membuat guyub warga Desa Tulungrejo.
Karena terlihat mereka saling bergantian mengaduknya. Kepala Desa Tulungrejo, Suliyono mengatakan dengan njenang bareng ini membuat komitmen baru bagi warga desa.
"Yakni kami berkomitmen agar Desa ini maju. Diawali dengan kerukunan dan keguyuban warga sini," kata dia. Intinya, lanjut dia, ialah guyub rukun serta melestarikan budaya di desa. Jenang ini nanti akan dimakan bersama untuk warga sekitar.
Khamim, mengatakan rasa keguyuban ini yang sangat dirindukan. Apalagi, menurutnya kegiatan njenang bareng ini ada pembagian tugas."Ibu-ibunya yang mengemas jenang dibungkus daun pisang. Jenang ini akan dibagi ke warga sekitar. Siapa saja yang mau boleh ikut makan juga," kata dia. Dikatakannya, siang mengaduk jenang bersama, malamnya warga desa melakukan syukuran dengan berdoa bersama. Satu hari full warga Desa Tulungrejo mengadakan kegiatan selametan desa.

Mati Suri 40 Tahun, Kades Hidupkan Lagi Tradisi Aduk Jenang

Tradisi aduk jenang di Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu sudah 40 tahun mati suri. Kades Suliono kini menghidupkan tradisi tersebut bersama warga setempat, Rabu (11/10/2017).
Menurut Kades Suliono aduk jenang bersama itu merupakan momenpenting untuk hidup guyup rukun. “Saya hidupkan lagi karena sudah 40 tahun vakum,” kata dia.
Untuk menghidupkan tradisi tersebut, dia mengajak seluruh elemen masyarakat. Terutama Karang Taruna dan warga dari lima dusun di Desa Tulungrejo.
“Mereka kami ajak berkumpul. Lalu kita lakukan tradisi aduk jenang bersama,” papar dia.
Dijelaskan dia bahwa aduk jenang bersama itu memiliki filosofi budaya yang sangat tinggi dan luhur. Sebab, prosesnya sakral, dilakukan dengan penuh hati-hati untuk membangun kebersamaan.
Prosesnya, kata dia, diawali dengan doa bersama. Lalu, melakukan tabur bunga ke makam para Kades sebelumnya yang sudah meninggal. Setelah itu baru dilakukan tradisi aduk jenang bersama.
“Jadi semua itu kita lakukan bersama dengan hati-hati. Hasilnya kita nikmati bersama-sama dengan guyup dan rukun tanpa melupakan jasa para Kades sebelumnya,” papar dia.
Sumber : http://surabayapost.net/

Selasa, 10 Oktober 2017

Tulungrejo Njenang Bareng 2017


 Dalam rangka Selamatan Desa Tulungrejo, Pemerintah Desa Tulungrejo melakukan kegiatan untuk membuat Jenang bersama-sama yang dipusatkan dikediaman Kepala Desa Tulungrejo Suliono di RT 3 RW 10 Dusun Junggo Desa Tulungrejo. Kegiatan tersebut dilakukan untuk memupuk semangat kegotong royongan warga Desa Tulungrejo yang sudah mulai memudar. Kegiatan ini terbukti selama dua hari ini berhasil mengumpulkan biodo dan sinoman untuk melakukan ritual pembuatan Jenang. Acara tersebut dilanjutkan nanti malam dengan tirakatan bersama dirumah Kepala Desa Tulungrejo dengan suguhan utama jenang itu. Jenang dibuat dalam skala besar yang rencananya dibagikan merata kepada tokoh masyarakat, tokoh agama, LPMD, BPD, Ketua RT, Ketua RW, Linmas dan Perangkat Desa.