Rabu, 11 Oktober 2017

Tradisi Budaya Njenang Bareng Diadakan Kembali, Warga Tulungrejo Batu Pesta Sehari Penuh

Lima wajan atau penggorengan tertata dan tersebar di rumah Kepala Desa Tulungrejo, Rabu (11/10/2017) pagi.
Wajan berukuran besar itu merupakan sarana utama untuk mengaduk jenang kemoleh yang diadakan untuk peringatan Selametan Desa Tulungrejo.
Siapa sangka tradisi njenang bareng (membuat jenang secara bersma-sama) ini sudah lama tidak dilakukan oleh warga, hampir 40 tahun lalu. Oleh karena itu, tradisi ini kembali dihidupkan untuk menyatukan warga Desa Tulungrejo.Lima wajan ini untuk masing-masing dusun yang mengaduk jenang. Bahan-bahan yang digunakan untuk adonan jenang yakni gula merah, wajik, beras ketan, santan kelapa.
Setiap bahan rata-rata butuh sekitar 50 kilogram lebih. Dibutuhkan juga 500 buah kelapa. Untuk satu wajan berisi adonan jenang bisa dikerumuni puluhan waga yang bergantian mengaduknya.
Raut wajah warga Tulungrejo yang mengikuti kegiatan Njenang Bareng terlihat sangat bersemangat, tak jarang mereka menyemangati dirinya sendiri dengan berteriak.
Padahal mereka diselimuti oleh asap yang berasal dari tungku. Mereka mengaduk jenang secara bergantian. Mereka yang mengaduk jenang ini tak pandang usia. Mulai dari anak muda, remaja, hingga kakek berusia lanjut.
Walaupun mata mereka pedas karena paparan asap, mereka tetap bersemangat mengaduk jenang hingga matang menggunakan alat pengaduk besar yang terbuat dari kayu. Tradisi ini ternyata mampu membuat guyub warga Desa Tulungrejo.
Karena terlihat mereka saling bergantian mengaduknya. Kepala Desa Tulungrejo, Suliyono mengatakan dengan njenang bareng ini membuat komitmen baru bagi warga desa.
"Yakni kami berkomitmen agar Desa ini maju. Diawali dengan kerukunan dan keguyuban warga sini," kata dia. Intinya, lanjut dia, ialah guyub rukun serta melestarikan budaya di desa. Jenang ini nanti akan dimakan bersama untuk warga sekitar.
Khamim, mengatakan rasa keguyuban ini yang sangat dirindukan. Apalagi, menurutnya kegiatan njenang bareng ini ada pembagian tugas."Ibu-ibunya yang mengemas jenang dibungkus daun pisang. Jenang ini akan dibagi ke warga sekitar. Siapa saja yang mau boleh ikut makan juga," kata dia. Dikatakannya, siang mengaduk jenang bersama, malamnya warga desa melakukan syukuran dengan berdoa bersama. Satu hari full warga Desa Tulungrejo mengadakan kegiatan selametan desa.

Mati Suri 40 Tahun, Kades Hidupkan Lagi Tradisi Aduk Jenang

Tradisi aduk jenang di Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu sudah 40 tahun mati suri. Kades Suliono kini menghidupkan tradisi tersebut bersama warga setempat, Rabu (11/10/2017).
Menurut Kades Suliono aduk jenang bersama itu merupakan momenpenting untuk hidup guyup rukun. “Saya hidupkan lagi karena sudah 40 tahun vakum,” kata dia.
Untuk menghidupkan tradisi tersebut, dia mengajak seluruh elemen masyarakat. Terutama Karang Taruna dan warga dari lima dusun di Desa Tulungrejo.
“Mereka kami ajak berkumpul. Lalu kita lakukan tradisi aduk jenang bersama,” papar dia.
Dijelaskan dia bahwa aduk jenang bersama itu memiliki filosofi budaya yang sangat tinggi dan luhur. Sebab, prosesnya sakral, dilakukan dengan penuh hati-hati untuk membangun kebersamaan.
Prosesnya, kata dia, diawali dengan doa bersama. Lalu, melakukan tabur bunga ke makam para Kades sebelumnya yang sudah meninggal. Setelah itu baru dilakukan tradisi aduk jenang bersama.
“Jadi semua itu kita lakukan bersama dengan hati-hati. Hasilnya kita nikmati bersama-sama dengan guyup dan rukun tanpa melupakan jasa para Kades sebelumnya,” papar dia.
Sumber : http://surabayapost.net/

Selasa, 10 Oktober 2017

Tulungrejo Njenang Bareng 2017


 Dalam rangka Selamatan Desa Tulungrejo, Pemerintah Desa Tulungrejo melakukan kegiatan untuk membuat Jenang bersama-sama yang dipusatkan dikediaman Kepala Desa Tulungrejo Suliono di RT 3 RW 10 Dusun Junggo Desa Tulungrejo. Kegiatan tersebut dilakukan untuk memupuk semangat kegotong royongan warga Desa Tulungrejo yang sudah mulai memudar. Kegiatan ini terbukti selama dua hari ini berhasil mengumpulkan biodo dan sinoman untuk melakukan ritual pembuatan Jenang. Acara tersebut dilanjutkan nanti malam dengan tirakatan bersama dirumah Kepala Desa Tulungrejo dengan suguhan utama jenang itu. Jenang dibuat dalam skala besar yang rencananya dibagikan merata kepada tokoh masyarakat, tokoh agama, LPMD, BPD, Ketua RT, Ketua RW, Linmas dan Perangkat Desa.





Kamis, 14 September 2017

Meningkat 70 Persen, Peternak Sapi Perah Dusun Wonorejo Tulungrejo Lega

Para peternak di Dusun Wonorejo Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu mengaku lega dan bangga. Pasalnya, mereka mendapat bantuan 100 ekor sapi perah dari Pemprov Jatim.
“Para peternak mendapat bantuan sapi perah dari Pemprov Jatim itu tahun 2016. Mereka lega karena selain beranak pinak juga bisa menjual susunya,” kata Kades Tulungrejo, Suliono.
Menurut dia, bantuan dari Pemprov Jatim itu kini sudah meningkat sangat signifikan. Sebab, peningkatannya mencapai sekitar 70 persen.
Sapi perah itu, kata dia, juga digulirkan pada peternak lain. Sedangkan penerima bantuan itu kata dia, ada dua kelompok.
Disebutkan seperti kelompok dari Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH). Selain itu kelompok masyarakat desa setempat.
“Bantuan itu disalurkan lewat Dinas Pertanian dan Pertanahan Kota Batu. Bahkan mereka juga yang menyiapkan fasilitas berupa Kandang Komunal,” kata Suliono.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Pertanahan Kota Batu, Sugeng Pramono mengaku bangga pada para peternak. Alasannya, sapi perah bantuan itu sudah meningkat sekitar 70 persen.
“Peningkatan itu tak hanya dari jumlah sapi yang diternak. Tapi juga produksi susu yang diperah,” kata dia.
Hasil susunya itu tutur dia dikirim ke dua lembaga. Di antaranya ke KUD Kota Batu dan Koperasi Margi Rahayu.
Sedangkan anak sapi yang dihasilkan, kata dia, digulirkan ke peternak lain yang belum dapat bantuan. Makanya dia berharap agar para peternak bisa merawat dan mengembangkan sapi bantuan tersebut dengan baik.
Selain itu dia berjanji akan berkoordinasi dengan instansi lain seperti Dinas Lingkungan Hidup. Tujuannya untuk mengelola limbah sapi itu agar memberikan manfaat.
Limbah sapi itu kata dia bisa dikelola menjadi biogas dan lainnya. “Karena itu kami juga akan koordinasi dengan Diskoperindag Kota Batu sehingga bisa menjadi pariwisata edukasi ternak,” terangnya.
Sumber : https://surabayapost.net

Rabu, 13 September 2017

Pagupon Raksasa di Wana Wisata Coban Talun

Jika anda ingin merasakan sensasi menginap di rumah pagupon atau kandang merpati yang berada di tengah-tengah hutan? Penginapan seperti itu mungkin hanya ada di Wanawisata Coban Talun Dusun Wonorejo Desa Tulungrejo  Kota Batu.
Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Coban Talun, sebagai penggagas sekaligus pengelola penginapan unik itu, menyematkan nama tersebut. Sebab, bentuknya memang mirip pagupon, dengan ukuran yang lebih besar.
Satu unit rumah pagupon berukuran lebar sekitar 3 meter, tinggi 3 meter, dan panjang 4 meter. Interiornya bisa menampung satu kasur kecil plus meja. Sehingga, kamar mini ini bisa menampung hingga tiga orang dewasa di dalamnya.
Anggota Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Coban Talun Kelompok Wisata Roy Teguh mengatakan, total keseluruhan terdapat sepuluh rumah pagupon. Dan seluruhnya memang untuk disewakan kepada para wisatawan, kata dia.
Ia menambahkan, bahwasanya untuk harga sewa rumah pagupon bisa dibilang terjangkau. Yakni, berkisar Rp 300-400 ribu per malamnya. Sementara untuk fasilitas kamar pagupon VIP, dilengkapi dengan televisi.
Meski tergolong minimalis, menginap di rumah pagupon bisa membuat pengunjung merasakan sensasi kedekatan dengan alam, yang mungkin tak ditemui di penginapan lain.
Sumber : http://malang-news.com