Pura Giri Arjuno
Perbukitan di lereng Gunung Arjuno
Bicara
Kota Batu, tidak pernah lepas dengan wahana wisata modern yang kini terus
berkembang. Namun, tidak dimungkiri, wisata alam di Kota Apel tersebut juga
paling banyak dicari wisatawan lokal hingga mancanegara, bahkan. Seperti
layaknya kota wisata lain, Batu juga memiliki wisata religi yang tidak banyak
orang tahu, Pura Giri Arjuno. Letaknya berada di Dusun Junggo, Desa Tulungrejo,
Kecamatan Bumiaji atau sekitar 15 kilometer dari Alun-alun Kota Batu.
Sesuai namanya, posisi Pura Giri Arjuno berada di kaki gunung Arjuno. Untuk
mencapainya bisa menggunakan sepeda motor atau mencarter angkot. Kondisi jalan
yang kurang bagus, menanjak, dan berkelok membuat bis pariwisata tidak bisa
mencapai pura.
Bunga Wortel, karena harganya murah sehingga biarpun sudah berumur tua petani belum memanennya karena masih menunggu kenaikan harga.
Petani Apel, sedang Merempes Daun Apel hal ini dikarenakan buah apel selesai dipanen. Agar bisa berbunga kembali dibutuhkan perontokan daun yang sudah tua supaya tumbuh tunas baru yang menghasilkan bunga dan daun. Bunga yang telah mengalami penyerbukan akan berubah menjadi buah apel.
Selain
rumah penduduk, pertokoan sederhana, dan penginapan, sepanjang perjalanan
menuju Pura Giri Arjuno terbentang berhektar-hektar ladang dengan aneka macam
sayur dan kebun apel. Hijaunya pemandangan menyegarkan pikiran bagi siapa saja
yang datang, termasuk saya. Kondisi jalan yang sepi tidak akan terasa di sini.
Sebab, di sepanjang perjalanan banyak dijumpai petani apel dan sayur. Sehingga
memungkinkan pejalan untuk saling menyapa dan bercengkrama.
Saat saya
dan Mbak Dian bertandang ke sana, ada sekelompok petani apel tengah
merempes daun apel sehingga tampak meranggas. Rupanya, mereka
sengaja membersihkan dedaunan yang menempel pada dahan. Hal itu untuk
mempercepat pertumbuhan daun, bunga, dan buah apel dalam jangka waktu lima atau enam bulan ke depan saat
masa panen berikutnya akan tiba.
Dibutuhkan
waktu sekitar 30 menit dari pusat Kota Batu untuk mencapai Pura Giri Arjuno.
Sekitar pukul 10 kami sampai dan mendapati rombongan dari Bali tengah
bersembahyang di Pura. Tidak ada bebet (sarung atau selendang)
yang disediakan di Pura tersebut. Akibatnya, kami harus menunggu rombongan dari
Bali untuk meminjam bebet. Seperti di pura lain, di Giri Arjuno
pengunjung diharuskan memakai bebet. Ini sebagai simbol bagi umat
Hindu bahwa bebet untuk mengendalikan angkara atau nafsu
manusia, terlebih saat menghadap Sang Pencipta.
Kami
bertemu romo resi Ahmad Adi Dharma dan pemangku Basuki
saat masuk pura. Sehari-hari, Romo resi Ahmad memimpin
sembahyang umat Hindu dari beragam daerah di Indonesia, seperti Surabaya,
Malang, Blitar, Mataram, Bali, Sumatera, Sulawesi, dan lain sebagainya, yang
sengaja datang ke Giri Arjuno. Pura ini cukup spesial bagi umat Hindu. Sebab,
tempat ini dianggap keramat lantaran beberapa cerita yang berkembang. Letak
pura yang berada di bukit mengisyaratkan bahwa untuk mencapai langit,
kesejahteraan, sekaligus mengadap Tuhan dibutuhkan pengorbanan.
Romo resi Ahmad menceritakan awal mula keberadaan Giri
Arjuno—yang dulunya hanya berupa satu pesanggrahan. Pesanggrahan ini kemudian
dipugar menjadi lebih bagus dan diresmikan oleh walikota Batu tahun 2005, Imam
Kabul. Pemugaran ini dilakukan karena umat Hindu setempat meyakini bahwa di
Giri Arjuno terdapat Candi Pawon peninggalan kerajaan Majapahit yang
keberadaannya hingga kini masih misterius. Menurut resi, dulunya di
sekitar candi terdapat ribuan pohon kina yang tumbuh. Namun, saat Gunung Arjuno
meletus, candi terkubur dan pohon kina musnah diganti dengan pepohonan apel.
Sebelum
diresmikan, umat Hindu di sekitar Bumiaji kerap bersembahyang di Pura
Indrajaya, sekitar tiga kilometer sebelum Giri Arjuno. Namun, setelah ada Giri
Arjuno, mereka lebih menikmati untuk sembahyang di sana. Baik sembahyang
saat tilem (death moon) maupun purnama, serta galungan
maupun odalan (peringatan hari jadi pura) yang baru
diperingati dua bulan lalu.
Di gerbang masuk pura terdapat Candi Bentar yang memisahkan Nista dan Madya
Mandala. Lalu saat memasuki pura, selain menggunakan bebet,
pengunjung wajib diperciki tirta yang ada di depan pura. Fungsinya sama seperti
wudu bagi umat Muslim, menghadap Tuhan harus dalam keadaan suci.
Mbak Dian
disucikan dengan tirta oleh romo resi Ahmad
Terdapat
tiga bangunan di bagian dalam pura. Sisi kiri sebagai penunjuk cuaca, di tengah
sebagai penunjuk arah sembahyang—seperti ka’bah, lalu di sisi kanan ada
penunjuk keberuntungan. Area ini steril dari pengunjung yang tidak melakukan
sembahyang. Kalau pun masuk, wajib menggunakan bebet. Kebetulan,
Mbak Dian membawa selendang dari rumah, jadi saat bebet pinjaman
kami kembalikan, dia masuk wilayah steril bersama romo resi dan pemangku. Sementara
saya menunggu di luar. Dari luar, tampak di ujung pura dengan dua payung mekar
berwarna putih dan kuning. Ini sebagai lambang meminta ketentraman dan
keselamatan bagi siapa saja yang sembahyang di sana.
Tiga
bangunan suci
Khas.
Payung kuning dan putih di ujung pura
Di area
luar pura, terdapat satu warung yang menjual menu sederhana. Saat kami ke sana,
warung tengah menjual buah apel sisa dari odalan. Kata salah
satu pembelinya, mengalap berkah dengan membeli buah sisa odalan.
Yang menarik, di area pura sangat asri. Banyak bunga berwarna-warni bermekaran.
Romo resi, pemangku, dan penjaga pura sekaligus warung ramah. Membuat
saya yakin, bahwa toleransi keberagaman umat beragam di Indonesia kokoh. Saling
menghargai tanpa saling merusak. Selalu, perbedaan itu indah.
Batu bukan hanya soal wisata alam, edukasi, dan wahana. Tapi dari perjalanan
ini saya tahu bahwa Batu juga punya wisata religi selain Masjid Agung Batu.
Yakni, Pura Giri Arjuno.
Bunga yang Indah
Dikutip dari :https://www.goodreads.com/author/show/6511565.Atiqoh_Hasan/blog?page=2
Tidak ada komentar:
Posting Komentar