Jumat, 23 September 2016

Joni Rahmat, Jatuh Bangun Menggeluti Bisnis Olahan Pangan Jamur Tiram

Hampir semua petani jamur di Dusun Wonorejo Desa Tulungrejo Kecamatan Bumiaji mengetahui sosok Joni Rahmat.  Pria yang akrab disapa Joni ini dikenal masyarakat sekitarnya sebagai petani sekaligus pengolah produk jamur. Dia sudah menekuni dunia jamur, khususnya jamur tiram, sejak 2000 lalu.
Bapak 40 tahun ini mencoba mendiversifikasi jamur menjadi berbagai produk olahan. Misalnya keripik, nugget, bakso, siomay, lumpia, martabak, steak, sate hingga jamur krispi. Dan hasil olahannya kini banyak dikonsumsi masyarakat sekitar maupun Kota Batu.
Awalnya bapak dua anak ini menggeluti dunia jamur hanya sambilan. Pada tahun 2000 itu, Joni adalah kontraktor bangunan. Saat bermukim di Perumahan Sawojajar Kota Malang sebelum 2007, Joni  sudah membudidayakan jamur.
Niatnya nyambi budidaya jamur itu karena Joni menyukai jamur. Menurutnya, jamur adalah tanaman organik yang mengandung gizi tinggi. Joni menyukai jamur sejak anak-anak. Kesukaannya bertambah ketika pada tahun 2000, ada pelatihan budidaya jamur tiram. Saat itu dia masih mahasiswa di Universitas Brawijaya (UB).

”Awalnya hanya suka biasa. Tapi setelah tahu cara budidayanya, semakin tertantang untuk menekuni,” kata Joni.
Joni lalu pindah ke Sidomulyo Kota Batu untuk mendirikan rumah jamur dengan kapasitas 10 ribu baglog. Dengan modal Rp 22 juta, Joni mendirikan rumah jamur kuping.
Dia saat itu juga membuat baglog secara mandiri. Baglog terbuat dari serbuk kayu, bekatul, tepung jagung, kapur dan air. Dari 30 petani jamur di Desa Tulungrejo kala itu, sekitar 70 persen baglognya dipasok oleh Joni.
Pekerjaan di dunia kontraktor hanya berumur dua tahun. Joni memilih menekuni jamur. Dia pun mengirim hasil panen jamur tiram ke berbagai hotel dan restoran di Kota Malang, Surabaya, Bali hingga Lombok.
Waktu itu,  kirimannya ke konsumen dalam skala kecil. Total pengiriman dalam sehari hanya 30 kilogram.
Meski hanya sedikit, ketika pasar sedang sepi, banyak jamur yang terbuang sia-sia. Bahkan suatu ketika dia memiliki terlalu banyak stok, sekitar 100 kilogram. ”Barang saya saat itu kelebihan. Saya bagikan ke tetangga-tetangga sudah bosan mereka. Terpaksa sisanya kita buang ketika sudah busuk,” kata suami dari Inayatul Hikmah ini.
Kemudian, Joni berpikir harus ada solusi produk agar jamurnya tak sia-sia. Dia pun belajar sendiri mengolah jamur menjadi keripik. Ide itu dia dapatkan dari Jogjakarta. Di sana ada olahan jamur menjadi keripik. Joni pun akhirnya belajar otodidak mengolah jamur segar menjadi keripik jamur.
Upayanya itu tidak langsung berhasil. Joni harus jatuh bangun untuk menemukan rasa keripik jamur yang pas. Joni membutuhkan waktu enam bulan untuk menciptakan rasa keripik jamur yang gurih.  ”Mulanya rasanya kacau. Ada yang terlalu asin hingga manis,” kata lulusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Brawijaya tahun 2000 ini.
Proses pembuatan keripik yang dilakukan Joni pun sederhana. Bahan-bahan yang dibutuhkan adalah jamur tiram, tepung, bumbu khususnya dan minyak goreng kualitas tinggi. Alat yang digunakan hanya sederhana. Mulai penggorengan hingga spin untuk mengeringkan keripik dari minyak.
Harga jual keripiknya terjangkau. Tetapi bisa naik turun karena disesuaikan dengan harga bahan baku dan ongkos produksi. Pada 2007 lalu, satu kilogram keripik jamur dijual dengan harga Rp 60 ribu. Untuk saat ini harganya Rp 80 ribu per kilo.
Sedangkan makanan olahannya juga terus berkembang. Pada 2009, dia mulai membuat nugget dan aneka olahan lainnya. Rasa nugget buatannya langsung enak dan gurih. Tidak seperti saat membuat keripik yang membutuhkan waktu 6 bulan untuk menemukan rasa yang pas.
Untuk pemasaran produk olahan jamur itu ia tidak merasa kesulitan. Berkat jaringan teman dan koleganya. ”Lumpia jamur dan aneka lainnya, dipesan secara regular oleh anggota dewan dan koperasi di Pujon,” ungkap lulusan SMAN 2 Genteng Banyuwangi ini.
Joni mengatakan, rasa dari makanan olahan jamur mirip seperti daging. Sudah banyak yang mengatakan itu. Wali Kota Batu Eddy Rumpoko ketika makan martabak jamur di Junggo sempat mengira martabak itu dari daging. Padahal aslinya terbuat dari jamur.
”Bahan makanan dari daging bisa digantikan dengan jamur tiram. Khusus untuk bakso jamur, tetap memakai campuran daging tetapi cita rasa jamur lebih kuat,” katanya.
Dalam sehari, Joni saat ini membutuhkan 50 kilogram hingga 70 kilogram jamur tiram segar. Itu untuk membuat makan olahan. Sebanyak enam pekerjanya membantu membuat berbagai olahan jamur itu.
Joni beserta makan olahan jamur sudha dikenal oleh berbagai instansi Pemkot Batu. Mulai dari Dinas Kesehatan hingga Kantor Ketahanan Pangan. Dia pun sering diajak pameran di luar kota. Bahkan produknya seringkali laris saat pameran karena produknya berbeda dengan yang lain.
”Pameran di beberapa tempat Malang Raya. Yang terdekat ini, mau pameran di acara Pameran Pangan Nasional 24 April hingga 27 April di Semarang, Mei nanti di Ambon. Ini salah satu peran kantor ketahanan pangan,” kata Joni.
Bapak berambut lurus ini menginginkan jamur bisa menjadi salah satu produk unggulan Kota Batu selain apel dan sayur organik. Sebab potensi pasar jamur sangat besar. Terutama di sektor jamur olahan. 
Sumber : radar malang.co.id

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar